Header Ads

-

Kenapa Kaum Luth Disebut Mendustakan Para Rasul? Apakah Ini Merupakan Kesalahan Al-Quran?


Allah
Allah
Mungkin ada orang-orang Kristen maupun orang-orang kafir yang bertanya, “Kenapa kaum Nabi Luth disebut mendustakan para Rasul? Bukankah kaum Luth hanya diutus seorang rasul saja yaitu Nabi Luth? Apakah ini membuktikan kesalahan Al-Quran baik secara bahasa ataupun pengertiannya?”

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan tersebut maka yang harus saya jelaskan di sini adalah bahwa “Al-Quran adalah kitab dengan gaya bahasa tingkat tinggi dan tidak ada yang bisa menandinginya.” Jadi, mustahil sekali ada kesalahan di Al-Quran dalam bentuk apapun itu. Allah yang langsung mengklarifikasi di dalam Al-Quran.

(Ialah) Al-Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa. (Q.S. Az-Zumar : 28)
Al-Quran diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Apa maksud kebengkokan di sini? Kebengkokan di sini semua yang menunjukkan kelemahan Al-Quran, baik itu kontradiksi, kesalahan, kekeliruan, penempatan kata, dan segala hal. Bahasa Al-Quran adalah induk dari semua bahasa di muka bumi ini, bukan sekedar bahasa Arab biasa, akan tetapi bahasa Arab yang mana Allah sendiri yang menyusun huruf demi hurufnya. Bahkan banyak orang-orang yang menulis karya sastra seperti syair ataupun karangan yang mengambil gaya bahasa dari Al-Quran.

Sekarang kita ke pembahasan utama, Mengapa Allah menyebut kaum Nabi Luth mendustakan para rasul? Bukankah rasul yang datang kepada kaum Luth hanyalah Nabi Luth itu sendiri?

Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 160)

(Baca Juga : Kisah Nabi Ayyub Lengkap)

Jawabannya adalah bahwa semua rasul dari rasul pertama sampai kepada Nabi Muhammad menyampaikan dakwah yang sama, yaitu menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sehingga kalau kaum Nabi Luth mendustakan Nabi Luth, maka mereka otomatis mendustakan rasul-rasul yang  lainnya, begitu pula sebaliknya, kalau mereka mentaati Nabi Luth maka mereka otomatis mentaati rasul-rasul yang lainnya. Bahkan bukan hanya kaum Nabi Luth saja yang mendustakan para rasul, kaum Nuh, kaum ‘Aad (kaum Nabi Hud), kaum Nabi Tsamud (kaum Nabi Sholeh), dan penduduk Aikah (kaum Nabi Syu’aib) juga disebut mendustakan para rasul.

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 105)

Kaum 'Aad telah mendustakan para rasul. (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 123)

Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 141)

Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul; (Q.S. Asy-Syu’araa’ : 176)

Jadi sudah jelas bahwa mendustakan para rasul di sini maksudnya jikalau suatu umat mendustakan rasulnya maka otomatis mereka juga mendustakan semua rasul Allah, karena seperti yang dijelaskan di atas bahwa dakwah yang dibawa oleh semua rasul sama, yaitu mengajak umatnya untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 25)

Karena tidak mungkin Al-Quran terdapat kesalahan, karena Al-Quran itu datang dari Allah dan Allah sendiri yang menjaga keasliannya

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. Al-Hijr : 9)
Semoga pembahasan ini bermanfaat.

No comments

Powered by Blogger.