Header Ads

-

Apakah Orang Yang Bermaksiat Diterima Amalnya?


Apakah Orang Yang Bermaksiat Diterima Amalnya?
Apakah Orang Yang Bermaksiat Diterima Amalnya?

Banyak sekali orang-orang yang bertanya apakah seorang pelaku maksiat diterima amal ibadahnya ataukah tidak diterima. Pada tulisan kali ini semua akan dibahas secara ringkas dan singkat mengenai hal ini. Karena saya melihat banyak sekali orang-orang yang membahas tentang hal ini dan tidak sedikit pula yang memberikan jawaban yang tidak benar.

Jadi, apakah pelaku maksiat diterima amal ibadahnya? Jawabannya adalah ya, diterima. Tapi perlu digaris bawahi bahwa syarat diterimanya amal ada 2, yang pertama adalah ikhlas kepada Allah dan yang kedua adalah mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, meskipun dia tidak pelaku maksiat akan tetapi dia melakukan ibadah tidak memenuhi kriteria 2 hal di atas maka amalnya tidak akan diterima. Misalnya seseorang ibadah dengan ikhlash kepada Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti petunjuk sesuai yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka amalnya tersebut tidak akan diterima. Dalil harus beribadah dengan ikhlas kepada Allah banyak sekali di Al-Quran, di antaranya adalah :

Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (Q.S. Az-Zumar : 2)

Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (Q.S. Az-Zumar : 11)

Sedangkan beribadah harus mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak disebutkan dalam hadits, sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, dan lainnya. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Hal ini berkaitan erat dengan bid’ah. Pelaku bid’ah amalnya tersebut tidak akan diterima. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)

Jadi, apakah pelaku maksiat diterima amalnya? Ya diterima, dengan syarat harus murni ikhlash kepada Allah dan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau kedua syarat tersebut terpenuhi maka amalnya akan diterima.

Ketahuilah bahwa setiap amal ibadah akan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah dan setiap maksiat akan menyebabkan kita semakin jauh dari Allah. Selama kita terus melakukan ibadah dan disibukkan oleh ibadah maka maksiat-maksiat akan kita jauhi. Karena jikalau seseorang disibukkan dengan ibadah, dia tidak akan terfikir lagi untuk berbuat maksiat.

Jangan pernah sekali-kali ragu terhadap melakukan amalan kebajikan, karena keraguan tersebut datang dari syetan laknatullah. Jika syetan membisikkan agar jangan mendatangi masjid karena sudah banyak berbuat dosa atau syetan membisikkan agar jangan mendatangi majlis ilmu karena tidak pantas akibat dosa yang telah ia diperbuat, maka hilangkanlah semua keraguan tersebut dan kerjakanlah amal tersebut. Syetan memang selalu melakukan banyak hal agar membisikkan keragu-raguan ketika kita ingin melakukan amal kebaikan. Jangan sekali-kali mengikuti bisikan itu, lakukan saja amal ibadah tersebut. Yang terpenting lakukan ibadah dengan ikhlash kepada Allah Ta’ala dan dengan mengikuti petunjuk dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga bermanfaat.

No comments

Powered by Blogger.